Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah (SPJT), siap membangun pabrik garam berskala besar di Kabupaten Brebes. Pembangunan ini merupakan langkah strategis untuk mengejar swasembada garam nasional, terutama setelah pemerintah berencana melarang impor garam pada tahun 2027, di mana kebutuhan nasional masih mencapai 2,7 juta ton.
Pabrik di Brebes ini ditargetkan memiliki kapasitas produksi raksasa sebesar 200.000 ton per tahun, dengan total investasi mencapai Rp 64 miliar.
Direktur SPJT, Untung Juanto, mengungkapkan bahwa pabrik di Brebes ini akan menjadi yang kedua setelah pabrik pertama yang telah sukses beroperasi di Pati.
“Masih ada 2,7 juta ton yang kita impor. Luar biasa. Ini adalah peluang untuk mewujudkan swasembada garam. Jadi SPJT punya rencana jangka panjang untuk membangun industri garam, tahun 2026 kita rencana membangun di Brebes,” ujarnya dalam Workshop Temu Aktor Swasembada Garam Jawa Tengah di Aula FISIP Universitas Diponegoro, Kamis (4/12/2025).
Pabrik pertama di Pati saat ini memproduksi garam siap pakai sebanyak 25.000 ton per tahun. Untung Juanto berencana meningkatkan total kapasitas produksi menjadi 200.000 ton per tahun, yang akan didistribusikan antara Brebes dan Pati.
“Perluasan kapasitas jadi 200.000 ton per tahun yang semula 25.000 ton, baik di Brebes maupun di Pati. Supaya bisa mengurangi impor sampai 12 persen jika itu terwujud. Jadi total sekarang impor 2,7 juta ton, kita bisa produksi 400.000 ton per bulan,” jelasnya.
Jika peningkatan kapasitas mencapai 200.000 ton per tahun, setiap pabrik akan mampu memproduksi sekitar 556 ton per hari, atau 23 ton per jam, meningkat signifikan dari kapasitas saat ini yang hanya 6 ton per jam.
“Kalau saat ini masih 6 ton per jam, kapasitas kita masih 6 ton per jam. Jadi kami rencanakan menjadi 23 ton per jam dengan total investasi di Brebes itu rencananya 64 miliar,” tuturnya.
Untuk mendukung keberhasilan ini, groundbreaking di Brebes direncanakan akan dilakukan pada Juni atau Juli 2026. SPJT juga berkomitmen penuh mendukung petani garam.
“Di Pergub diatur wajib penyerapan 25 persen dari garam rakyat, kita menyerap 100 persen garam dari rakyat. Jadi 100 persen bahan baku yang kami pakai di industri itu diserap dari garam rakyat atau petani,” tambahnya.
Potensi Ekonomi Garam Jawa Tengah
Senator DPD RI Jawa Tengah, Abdul Kholik, meyakini bahwa potensi garam di Jawa Tengah dapat menjadi kekuatan utama swasembada nasional. Ia memperkirakan nilai impor garam yang akan ditutup mencapai Rp 15 triliun.
“Harga garam yang nanti akan ditutup impornya sekitar 2,7 juta ton, nilainya adalah kurang lebih Rp 15 triliun. Nah, kalau Jawa Tengah bisa mengambil sepertiganya saja, ada potensi Rp 5 triliun untuk bisa menggerakkan ekonomi garam di Jawa Tengah,” ujarnya.
Kholik menambahkan, DPD RI Jateng bersama Pemprov Jateng akan melakukan ekspedisi garam di wilayah selatan (Purworejo, Kebumen, hingga Cilacap) pada akhir Desember untuk memetakan potensi dan tantangan. Ia juga mendorong pengadaan washing plant (unit pencucian garam) di sentra produksi Jepara-Demak, selain yang sudah ada di Rembang dan Pati, untuk meningkatkan kualitas.
“Khusus yang di Jepara, sebenarnya harusnya Pemda yang mengambil peran karena gedungnya sudah ada. Tinggal mesinnya saja dan nilainya enggak terlalu besar. Nanti kita mudah-mudahan bisa dibantu, akan saya komunikasi juga dengan pihak Pemda dan pemerintah pusat,” imbuhnya.






