Kabupaten Brebes mendadak gempar. Sebuah video amatir yang merekam paket makanan berisi telur puyuh penuh belatung viral di media sosial, memicu kemarahan publik.
Ironisnya, paket tersebut merupakan bagian dari program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas kesehatan generasi penerus di wilayah Kecamatan Ketanggungan.
Temuan ini bukan sekadar masalah teknis dapur, melainkan cerminan buruknya kontrol kualitas terhadap pangan yang dikonsumsi anak-anak sekolah.
Kondisi makanan yang dilaporkan rusak dan berbau busuk ini menimbulkan tanda tanya besar: bagaimana mungkin sistem pengawasan di tingkat dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bisa kecolongan hingga tahap pengemasan?
Telur puyuh yang dikemas dalam plastik transparan tersebut terlihat jelas sudah dikerumuni belatung, menandakan bahan pangan yang digunakan kemungkinan besar sudah tidak layak konsumsi sejak awal atau terkontaminasi hebat saat proses pengolahan.
Menanggapi kegaduhan ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Brebes segera bergerak untuk melakukan investigasi lapangan.
Namun, upaya verifikasi awal sempat terhambat karena kondisi dapur SPPG yang sedang tidak beroperasi. Hal ini memicu kecurigaan lebih lanjut mengenai transparansi operasional penyedia makanan tersebut.
Dikutip dari ketik.com, Selasa, (23/12), Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes, Tambah Raharjo, memberikan keterangan resmi mengenai langkah yang diambil timnya. Dalam keterangannya, ia mengakui adanya kendala saat kunjungan pertama ke lokasi pengolahan makanan.
“Dari hasil kunjungan petugas gizi dan kesling Puskesmas Ketanggungan, SPPG dimaksud sepi, katanya libur, yang menemui hanya cleaning service yang sedang kerja,”* terang Plt Dinkes Brebes, Tambah Raharjo.
Meskipun dapur sedang kosong, petugas Dinkes tidak berhenti di situ. Mereka melakukan konfirmasi langsung ke pihak sekolah yang menjadi penerima manfaat program MBG tersebut.
Dari hasil pertemuan dengan pihak sekolah, kebenaran mengenai video viral tersebut akhirnya terkonfirmasi. Beruntung, kewaspadaan pihak sekolah mencegah makanan tersebut masuk ke perut para siswa.
“Petugas kemudian mendatangi sekolah penerima manfaat dan diterangkan kepala sekolah bahwa ada permasalahan tersebut. Meski begitu ia menerangkan belum ada yang sempat mengonsumsi,” sambung Kepala Dinkes Brebes.
Meski tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, masyarakat mendesak adanya sanksi tegas bagi pengelola dapur SPPG Ketanggungan. Standar operasional prosedur (SOP) pengolahan makanan harus diaudit secara menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang di sekolah lain. Dinkes Brebes pun menyatakan akan melakukan pemanggilan resmi untuk meminta pertanggungjawaban pihak pengelola. (redaksi)






