Hutan seringkali menjadi tempat yang tenang, namun bagi Sumyati (49), warga Desa Galuh Timur, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, hutan Makamdawa justru menjadi lokasi yang mengancam nyawa.
Sejak Minggu (18/1/2026), perempuan yang dikenal memiliki riwayat kesehatan khusus ini raib tanpa jejak, meninggalkan tanda tanya besar bagi keluarga dan tim penyelamat.
Kasus hilangnya warga di kawasan hutan bukanlah hal baru di Indonesia, namun detail mengenai kondisi Sumyati menambah urgensi pencarian ini. Korban dilaporkan meninggalkan rumah sejak pukul 10.00 WIB.
Hingga sore hari, saksi mata masih melihat keberadaannya di perbatasan Dukuh Makamdawa, namun setelah itu, ia seolah ditelan bumi.
Detik-Detik Hilangnya Sumyati
Berdasarkan data yang dihimpun, Sumyati memiliki kebiasaan berjalan ke arah hutan tanpa tujuan yang jelas. Kondisi psikis dan riwayat kesehatan menjadi faktor risiko tinggi dalam kejadian ini.
“Kesehariannya sering berjalan ke hutan tanpa tujuan. Ada indikasi pikiran kosong dan memiliki riwayat epilepsi,” jelas M. Abdullah, Kepala Kantor SAR Cilacap, dalam rilis resminya, dikutip dari indiebanyumas.com, Selasa (20/1).
Pernyataan ini menegaskan bahwa Sumyati berada dalam kondisi sangat rentan. Penyakit epilepsi yang diidapnya bisa kambuh kapan saja, dan tanpa pengawasan di tengah hutan yang rimbun, peluang untuk bertahan hidup (survival rate) akan menurun drastis seiring berjalannya waktu.
Operasi SAR: Terjepit di Antara Hujan dan Tebin
Merespons laporan kehilangan tersebut, Unit Siaga SAR (USS) Brebes langsung bergerak cepat. Pada Senin dini hari (19/1/2026) pukul 00.14 WIB, tim rescuer sudah tiba di lokasi untuk melakukan assessment. Namun, medan Hutan Makamdawa bukanlah lawan yang mudah.
Tantangan Geografis dan Klimatologis
Kabupaten Brebes bagian selatan, termasuk wilayah Tonjong, memiliki topografi perbukitan dengan vegetasi hutan yang sangat rapat. Data dari BMKG menunjukkan bahwa pada bulan Januari, wilayah Jawa Tengah bagian barat masuk dalam puncak musim penghujan. Hal inilah yang menjadi musuh utama tim di lapangan.
Pencarian yang dibagi menjadi tiga kelompok (SRU) pada Senin pagi terpaksa harus gigit jari. Hujan deras yang mengguyur lokasi tidak hanya mengurangi jarak pandang, tetapi juga membuat jalur setapak menjadi licin dan rawan longsor.
Mengapa Pencarian Begitu Sulit?
-
Medan Berat: Area Makamdawa terdiri dari perbukitan dengan kemiringan yang curam.
-
Cuaca Ekstrem: Hujan di area hutan seringkali diikuti oleh kabut tebal yang membatasi penglihatan hingga kurang dari 5 meter.
-
Kondisi Korban: Tanpa perbekalan dan pakaian yang memadai, risiko hipotermia sangat tinggi bagi Sumyati.
Fakta Pencarian Orang Hilang di Hutan Indonesia
Secara statistik, operasi SAR di kawasan hutan memiliki tingkat keberhasilan tinggi jika ditemukan dalam waktu kurang dari 72 jam (Golden Time). Namun, setelah melewati batas tersebut, tantangan medis seperti dehidrasi dan paparan cuaca dingin mulai mengambil peran fatal.
Tim SAR gabungan yang terlibat tidak hanya mengandalkan tenaga fisik, tetapi juga peralatan canggih. Navigasi darat, alat mountaineering, serta perangkat komunikasi satelit dikerahkan karena sinyal seluler di dalam Hutan Makamdawa sangat tidak stabil.
Pencarian dijadwalkan kembali dilanjutkan pada Selasa (20/1/2026) pagi. Fokus utama tim adalah menyisir radius 2-3 kilometer dari titik terakhir korban terlihat (Last Known Position). Harapan masih ada, namun masyarakat diminta untuk waspada dan tidak melakukan pencarian mandiri tanpa koordinasi, mengingat risiko yang sama bisa menimpa siapa saja di cuaca buruk seperti sekarang.
Pentingnya Pengawasan Keluarga
Tragedi ini menjadi pelajaran berharga bagi warga di pinggiran hutan. Bagi anggota keluarga yang memiliki riwayat penyakit seperti epilepsi atau gangguan kognitif, pengawasan ekstra adalah harga mati. Hutan bukan hanya sekadar deretan pohon, melainkan labirin yang bisa mematikan bagi mereka yang tidak dalam kondisi fit sepenuhnya.
Hingga saat ini, doa dan dukungan terus mengalir dari warga Desa Galuh Timur. Semua mata kini tertuju pada pergerakan tim SAR di Hutan Makamdawa. (red)






