Pemerintah pusat melalui Badan Otorita Pengelola Pantai Utara (Pantura) Jawa telah menerima usulan pembangunan tanggul laut masif dengan skema hybrid sea wall di wilayah Pesisir Demak.
Informasi penting ini disampaikan langsung oleh Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Tengah, Taj Yasin, setelah rapat bersama Badan Otorita. Proyek tanggul laut hybrid ini direncanakan membentang dari Kabupaten Demak hingga Jepara.
Wakil Ketua II Badan Otorita Pengelola Pantura Jawa, Suhajar Diantoro, menegaskan bahwa pemerintah pusat saat ini memprioritaskan pembangunan di dua lokasi utama: Teluk Jakarta dan Teluk Semarang.
Teluk Semarang sendiri mencakup perairan di Kabupaten Kendal, Kota Semarang, dan sebagian Kabupaten Demak.
Namun, perhatian tertuju pada wilayah barat Jawa Tengah yang juga mengalami dampak rob (banjir pasang air laut) luar biasa.
Dikutip dari radarcbs.com, Kamis (10/12), Suhajar menyebutkan, “Kalau kita cermati ternyata di beberapa tempat lain termasuk misalnya sebagian (Kabupaten) Batang, Tegal, dan Pekalongan itu juga sudah luar biasa (dampak rob).”
Meskipun Brebes berada di ujung barat Pantura Jawa Tengah dan juga menghadapi masalah rob yang serius, namanya belum secara eksplisit disebut dalam prioritas pertama.
Pembangunan tanggul laut secara keseluruhan di Pantura Jawa diperkirakan membutuhkan waktu yang sangat panjang, yakni 20-30 tahun. Sementara percepatan prioritas di Teluk Jakarta dan Semarang ditargetkan selesai dalam 8 tahun.
Saat ini, survei teknis di Teluk Semarang sudah mencapai 70%. Pekerjaan konsultan akan dimulai Januari 2026, dan jika semua berjalan lancar, ground breaking atau peletakan batu pertama pembangunan tanggul laut diharapkan dapat dilakukan pada September 2026.
Keterlibatan pemerintah kabupaten/kota sangat diperlukan untuk kesiapan teknis karena Badan Otorita akan membentuk tim di lapangan yang berkolaborasi dengan pemerintah daerah. (redaksi)






