Respons cepat ditunjukkan oleh jajaran Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes dalam menangani isu keamanan pangan yang mencuat di Kecamatan Ketanggungan.
Viral-nya video paket makanan berbelatung pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) ditanggapi dengan langkah investigasi serius untuk mencari akar permasalahan dan memastikan standar kesehatan tetap terjaga.
Pemerintah menyadari bahwa program MBG adalah komitmen besar yang tidak boleh dirusak oleh kelalaian operasional di tingkat bawah.
Oleh karena itu, tim gizi dan kesehatan lingkungan (kesling) dari Puskesmas Ketanggungan segera diterjunkan ke lokasi yang diduga menjadi sumber masalah, yakni dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Langkah ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah daerah dalam melindungi kesehatan publik, khususnya anak-anak sekolah.
Namun, investigasi awal tidak berjalan mulus karena aktivitas di SPPG sedang dihentikan sementara mengikuti jadwal libur sekolah. Kendati demikian, koordinasi tetap dilakukan dengan pihak-pihak yang ada di lokasi guna memastikan adanya pertemuan lanjutan dengan penanggung jawab dapur tersebut.
Dikutip dari ketik.com, Selasa (23/12), Plt Kepala Dinas Kesehatan Brebes, Tambah Raharjo, menjelaskan situasi di lapangan saat timnya tiba di lokasi SPPG. *”Dari hasil kunjungan petugas gizi dan kesling Puskesmas Ketanggungan, SPPG dimaksud sepi, katanya libur, yang menemui hanya cleaning service yang sedang kerja,”* terang Plt Dinkes Brebes, Tambah Raharjo.
Sebagai tindak lanjut yang lebih formal, Dinas Kesehatan telah menyiapkan langkah administratif untuk memanggil pihak SPPG secara resmi.
Hal ini dilakukan agar proses klarifikasi berjalan sesuai prosedur dan pihak penyedia jasa dapat menjelaskan bagaimana standar mutu mereka dijalankan selama ini.
Pihak Dinkes menegaskan bahwa transparansi adalah kunci utama dalam penyelesaian kasus ini.
Raharjo menegaskan bahwa surat pemberitahuan telah dikirimkan untuk memastikan pertemuan dengan pihak yang bertanggung jawab dapat segera terlaksana.
“Berarti nanti akan ada kunjungan ulang tapi kita bersurat dulu agar bisa bertemu dengan yang bertanggungjawab dengan kasus yang diduga terjadi tersebut,” tutupnya.
Pihak sekolah penerima manfaat juga telah memberikan keterangan yang sangat berharga bagi tim investigasi. Kepala sekolah membenarkan adanya temuan telur puyuh yang rusak tersebut, namun berkat prosedur pengecekan internal sekolah sebelum dibagikan, paket bermasalah itu berhasil ditarik sehingga tidak ada satu pun siswa yang mengonsumsinya.
Langkah preventif kini menjadi prioritas utama Dinkes Brebes. Selain investigasi kasus Ketanggungan, Dinkes berencana memperketat supervisi terhadap seluruh dapur SPPG di wilayah Brebes guna memastikan bahwa kejadian paket makanan “rusak dan berbau” tidak menjadi tren negatif dalam pelaksanaan program MBG di tahun-tahun mendatang. (Redaksi)






