Malam pergantian tahun biasanya identik dengan panggung hiburan megah, dentuman musik, dan langit yang berwarna-warni oleh kembang api.
Namun, pemandangan kontras terjadi di Kabupaten Brebes pada malam menuju 2026. Bupati muda yang baru saja dilantik, Paramitha Widya Kusuma, justru memilih untuk meninggalkan segala kemewahan atribut jabatannya demi menemui warga di gang-gang sempit dan pelosok desa.
Tanpa pengawalan yang berlebihan, Paramitha meluncurkan program door to door di malam tahun baru. Langkah ini diambil bukan tanpa alasan.
Di tengah isu ketimpangan ekonomi, kehadirannya di tengah masyarakat miskin dan penyandang disabilitas menjadi sinyal kuat mengenai arah kebijakannya untuk periode 2025-2030.
Momen Haru di Rumah Warga: “Ini Anaknya Pak Indra?”
Salah satu momen paling menyentuh terjadi ketika Paramitha mengunjungi kediaman seorang warga penyandang disabilitas netra. Meski tidak bisa melihat sosok sang bupati secara fisik, naluri dan ingatan warga tersebut rupanya masih sangat tajam terhadap silsilah kepemimpinan di Brebes.
Interaksi hangat pun tercipta tanpa sekat. Warga tersebut mencoba mengenali siapa tamu yang datang ke rumahnya di malam yang larut itu.
“Ini siapa? Bupati? Anaknya Pak Indra ya?,” tanya seorang ibu dengan nada ragu namun penuh rasa ingin tahu.
Mendengar pertanyaan tersebut, Paramitha menjawab dengan rendah hati, “Iya anaknya Pak Indra.”
Seketika suasana menjadi haru. Ibu tersebut mengaku sangat mengenal orang tua Paramitha sejak masa muda. Dengan nada getar, ia memastikan kembali identitas sang bupati muda tersebut, “Berarti Mba Mitha?”
Momen ini membuktikan bahwa meskipun Paramitha adalah politikus muda dari PDIP dengan latar belakang keluarga pejabat, kedekatannya dengan akar rumput sudah terjalin secara emosional bahkan sebelum ia menduduki kursi nomor satu di Brebes.
Gaya Hidup “Low Profile” di Balik Harta Miliaran
Berdasarkan data Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), Paramitha Widya Kusuma memang bukan orang sembarangan. Ia tercatat memiliki total kekayaan mencapai Rp 9.192.200.000.
Kekayaan ini mencakup tanah dan bangunan senilai miliaran rupiah, serta kendaraan seperti Toyota Innova Zenix keluaran terbaru dan alat transportasi berat lainnya.
Namun, yang menjadi sorotan adalah bagaimana seorang Bupati dengan aset nyaris 10 miliar rupiah ini justru memilih merayakan tahun baru di rumah warga yang bahkan kesulitan untuk sekadar makan layak.
Alih-alih menggelar gala dinner di pendopo, ia justru sibuk membagikan bantuan langsung dan memantau program ketahanan pangan secara langsung.
Lahir pada 18 Januari 1992, Paramitha membawa energi milenial ke dalam birokrasi. Pendidikan Magister Manajemen yang ditempuhnya di UPS Tegal nampaknya ia terapkan untuk mengelola sumber daya manusia di Brebes dengan pendekatan yang lebih humanis. Bersama Wakil Bupati Wurja, ia memikul beban berat untuk mengentaskan kemiskinan di wilayahnya.
Bukan Sekadar Seremonial
Kritik tentu tetap ada. Banyak yang mempertanyakan apakah langkah door to door ini murni gerakan hati atau sekadar strategi komunikasi politik di awal masa jabatan.
Namun, bagi warga yang menerima bantuan di malam dingin itu, perdebatan politik tidaklah penting. Yang mereka rasakan adalah kehadiran nyata dari pemimpin mereka saat dunia luar sibuk bersenang-senang.
Paramitha seolah ingin mengirimkan pesan bahwa tahun 2026 adalah tahun kerja keras. Fokusnya pada warga disabilitas dan ketahanan pangan menunjukkan bahwa ia paham betul di mana letak luka masyarakatnya.
Dengan kekayaan yang stabil dan tanpa utang (Rp 0 berdasarkan LHKPN), ia memiliki kemandirian finansial yang seharusnya membuatnya lebih fokus melayani rakyat tanpa tergiur praktik korupsi.
Kini, publik Brebes menanti apakah aksi nyata di malam tahun baru ini akan terus konsisten dilakukan selama lima tahun ke depan, atau hanya menjadi bunga-bunga manis di awal masa jabatan. Satu hal yang pasti, Paramitha telah memulai tahun 2026 dengan cara yang “berbeda” dan berhasil mencuri perhatian publik secara nasional. (redaksi)






