Kondisi kegiatan belajar mengajar (KBM) di SDN Pengarasan 3, Bantarkawung, Brebes sangat memprihatinkan. Dari enam ruang kelas yang seharusnya digunakan, hanya tiga ruangan yang tersisa dan masih dianggap layak pakai.
Tiga ruangan kelas lainnya telah roboh, rusak parah, dan membahayakan keselamatan, sehingga sama sekali tidak bisa difungsikan.
Akibat rusaknya infrastruktur vital ini, ratusan siswa SDN Pengarasan 3 terpaksa harus berdesakan dan belajar di lokasi seadanya, yaitu di ruang perpustakaan, ruang guru, bahkan di bagian dapur sekolah.
Lingkungan belajar yang tidak memadai ini jelas menciptakan proses KBM yang sangat tidak nyaman dan jauh dari kata efektif.
Kepala SDN Pengarasan 3, Wahidin SPdI, menyampaikan kekecewaan mendalam atas kondisi yang sudah berlangsung lama ini.
“Sudah 25 tahun sejak terakhir kali sekolah ini dibangun pada tahun 2000. Selama itu, tidak ada perbaikan atau pembangunan baru yang dilakukan. Kami sangat membutuhkan perhatian dari Pemerintah Kabupaten Brebes untuk segera memperbaiki kondisi ini,” ujar Wahidin, menyoroti lamanya kondisi ini terabaikan, dikutip dari Indonesiapolicenews, Rabu, (17/12).
Wahidin juga secara tegas memohon agar Pemkab Brebes menjadikan perbaikan infrastruktur pendidikan sebagai prioritas utama.
Permintaan ini bukan tanpa dasar, sebab kondisi memprihatinkan ini sangat kontras dengan visi misi yang pernah diucapkan oleh pasangan Mitha-Wurja saat masa kampanye, di mana mereka secara spesifik menjanjikan adanya peningkatan kualitas pendidikan di Brebes.
Kondisi SDN Pengarasan 3 menjadi cerminan nyata bahwa masih banyak sekolah di Brebes yang membutuhkan uluran tangan serius dari Pemkab.
Jika penanganan terus tertunda, dikhawatirkan hal ini akan berdampak buruk dan permanen pada kualitas pendidikan serta masa depan generasi muda di daerah tersebut. Masyarakat Brebes kini menagih dan berharap janji-janji politik, khususnya pembangunan infrastruktur pendidikan, dapat segera direalisasikan. (redaksi)






