Hati Daklan (57), seorang penarik becak asal Desa Padakaton, Brebes, hancur seketika. Kegembiraan setelah menerima bantuan becak listrik langsung dari program Presiden Prabowo sirna saat dirinya dicegat oleh mobil bak terbuka di tengah perjalanan pulang dari Pendopo Brebes.
Daklan merasa dirinya hanya dijadikan alat untuk memenuhi kuota penerima bantuan. Meski sudah mengikuti pelatihan dan menerima penyerahan secara resmi, becak tersebut tidak pernah sampai ke rumahnya. Ia mengaku sempat diberi uang Rp50 ribu oleh pegawai BUMDes saat diberitahu bahwa unit tersebut harus disimpan di gudang.
Kekecewaan mendalam tak bisa disembunyikan dari wajah pria paruh baya ini. Ia merasa dimanfaatkan karena identitasnya digunakan untuk mendapatkan aset yang pada akhirnya diklaim oleh pihak lain.
“Kalau tahu becak itu bukan untuk saya, saya tidak mau meskipun dikasih seratus ribu rupiah,” keluhnya dengan nada getir saat ditemui di kediamannya, dikutip dari detik.com pada Jumat (19/12).
Kini, Daklan hanya bisa meratapi nasibnya sambil tetap menarik becak manual lamanya, sementara becak listrik yang seharusnya menjadi haknya teronggok di gudang dengan alasan administratif yang tidak ia pahami sebagai rakyat jelata. (redaksi)






