Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Brebes melalui Bupati Hj. Paramitha Widya Kusuma dan Wakil Bupati Wurja, mengimbau masyarakat untuk meramaikan dan melakukan program GEMAR (Gerakan Ayah Ambil Rapor di Sekolah).
Diketahui program ini sudah dilakukan diberbagai daerah di Indonesia. Program ini bertujuan untuk mengubah stigma bahwa urusan pendidikan anak hanya menjadi tanggung jawab ibu semata.
Melalui kampanye bertajuk “Ayo Sukseskan GEMAR”, Pemkab Brebes menekankan bahwa kehadiran seorang ayah di sekolah memiliki makna filosofis yang dalam. Kehadiran fisik ayah saat momen pembagian rapor dianggap sebagai bentuk kepedulian, tanggung jawab, dan dukungan moral yang dapat meningkatkan semangat belajar anak.
Dikutip dari akun resmi media sosial facebook DInas Kominfotik Brebes, Jumat (19/12), melalui poster resmi yang diunggah, “Gerakan sederhana seorang ayah, tapi maknanya besar: hadir, peduli, dan bertanggung jawab,” tulis pesan tersebut.
Menuai Kritik dan Sorotan Tajam Netizen
Meskipun bertujuan mulia untuk menguatkan peran fathering dalam keluarga, gerakan ini justru memicu gelombang kritik dari masyarakat di media sosial. Banyak netizen menilai kebijakan ini kurang mempertimbangkan realitas sosial warga Brebes yang heterogen.
Kritik Terhadap Relevansi Kebijakan
Munawir Ahmad, salah satu warga, memberikan catatan kritis bahwa kehadiran ayah mengambil rapor tidak otomatis mencerminkan kualitas pengasuhan. “Banyak ayah yang tidak bisa hadir karena jam kerja buruh, sopir, atau nelayan. Apakah mereka lantas dianggap tidak peduli? Ini narasi yang menyederhanakan realitas sosial,” tulisnya. Ia menambahkan bahwa pemerintah seharusnya lebih fokus pada masalah struktural seperti kualitas guru dan fasilitas sekolah daripada sekadar urusan seremonial.
Kekhawatiran Terhadap Mental Anak
Kritik juga datang terkait dampak psikologis bagi siswa. Devi Fitri Amalia dan Mala Ya Romi menyoroti perasaan anak-anak yang yatim atau berasal dari keluarga yang tidak utuh (broken home). “Membuat anak sedih saja. Bagaimana dengan ayah yang sudah tiada? Kayong aneh-aneh saja aturan sekarang,” keluh mereka.
Realitas Ekonomi: Ayah Merantau
Mengingat Brebes merupakan daerah dengan mobilitas penduduk tinggi, banyak warga yang mempertanyakan teknis program ini bagi para ayah yang sedang merantau ke luar kota atau luar negeri. “Bapaknya sedang merantau gimana dong? Baiknya tetap ibu saja yang 90% ibu rumah tangga,” ujar Mimih Toshop dalam kolom komentar. (redaksi)






