Keajaiban ekonomi tengah terjadi di jantung Pulau Jawa. Provinsi Jawa Tengah di bawah komando Gubernur Ahmad Luthfi berhasil mematahkan keraguan publik terkait dampak pemotongan Dana Transfer ke Daerah (TKD) oleh pemerintah pusat.
Alih-alih melambat, mesin ekonomi Jateng justru berlari kencang. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) per November 2025 mencatat pertumbuhan ekonomi Jateng menyentuh angka fantastis 5,37 persen (YoY) pada Triwulan III, meninggalkan angka nasional yang hanya mampu bertengger di level 5,04 persen.
Keberhasilan ini bukan datang tiba-tiba. Ahmad Luthfi menerapkan pola Collaborative Government yang memaksa seluruh elemen, mulai dari Bank Indonesia hingga bupati dan walikota, untuk berlari dalam satu irama.
Dalam sebuah pertemuan strategis, Ahmad Luthfi menegaskan bahwa ketergantungan pada anggaran daerah adalah cara lama yang harus ditinggalkan jika ingin maju.
“Membangun suatu daerah itu tidak bisa mengandalkan APBD atau Pendapatan Asli Daerah (PAD), itu hanya 15%. Sedangkan 85% adalah investasi yang datangnya dari dalam maupun dari luar. Oleh karena itu, Provinsi Jawa Tengah mengedepankan collaborative government (pemerintahan kolaboratif),” ujar Ahmad Luthfi di Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah pada Senin, 22 Desember 2025, lalu.
Strategi ini terbukti jitu. Realisasi investasi menembus angka Rp 66,13 triliun hanya dalam waktu sembilan bulan. Dampaknya pun sangat nyata bagi masyarakat bawah; sebanyak 326.462 lapangan kerja baru tercipta, menjadikan Jateng sebagai daerah dengan daya serap tenaga kerja terbesar kedua di Pulau Jawa.
Pemerintah Provinsi tidak hanya sekadar menarik investor, tetapi juga menyiapkan karpet merah berupa layanan perizinan digital yang transparan dan bebas pungli.
Gubernur Luthfi menyadari bahwa pertumbuhan ini harus dirasakan oleh semua pihak. Ia pun memberikan kredit kepada seluruh tim kerjanya.
“Ini merupakan hasil perencanaan dan kerja kolaborasi dari seluruh stakeholder, termasuk dengan pemerintah pusat, kabupaten/kota, dan Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah,” katanya.
Memasuki tahun 2026, arah pembangunan Jateng semakin jelas. Dengan industri pengolahan yang menyumbang lebih dari sepertiga kekuatan ekonomi, Jateng diproyeksikan akan terus menjadi motor utama ekonomi Indonesia.
Pencapaian ini dipertegas dengan raihan penghargaan Pioneer of Economic Empowerment, yang membuktikan bahwa Jawa Tengah kini adalah model sukses pembangunan ekonomi berbasis kolaborasi di Indonesia. (red)






